Mahmuda Nur dalam Hikayat Martalaya: Potret Akulturasi Budaya Lokal dengan Agama di Palembang menuliskan bahwa :

Dirgo (2002, 26-27) dan Richard (1992, 3) seperti dikutip Bahriah (2009, 2), menyatakan bahwa akulturasi memiliki tiga pemahaman,

  1. percampuran dua kebudayaan atau lebih.
  2. masuknya pengaruh budaya asing dalam suatu masyarakat.
  3. pembauran bahasa.

Masyarakat Palembang berawal dari masyarakat Melayu, bahkan Palembang Hulu (Hulu Lematang) merupakan tanah asal Melayu, tetapi sejak Majapahit menguasai Palembang yang diteruskan oleh Demak dan Mataram, masuklah budaya Jawa terutama di daerah pantai.

Sebagai contoh adalah Hikayat Martapura, kutipannya :

Adapun raden puteri lagi sedang bermain2 ngiburkan hati yang sangat masygulnya, setelah maka baginda pun perlahan datang ngampiri duduk disisi raden puteri,

Di dalam penggalan tersebut, terdapat kata ngiburkan dan ngampiri.  Meskipun akar katanya adalah akar Melayu, tetapi tata bahasanya dipengaruhi bahasa Jawa. Sedangkan penulisan umum bahasa Melayu seharusnya menghiburkan dan menghampiri. Dari kalimat tersebut terlihat adanya adanya pembauran antara bahasa Jawa dengan bahasa Melayu di Palembang.

blog comments powered by Disqus

Nusantara