Mengatasi Pengemis Musiman

Rabu, September 02, 2009 | , with View Comments

Maraknya pengemis pada bulan Ramadhan tentu saja merisaukan para pejabat pemerintah. Dengan adanya para pengemis tersebut, seakan-akan segala program pemberdayaan masyarakat yang dijalankan menjadi sia-sia. Padahal pemerintah telah menyiapkan banyak dana untuk pengentasan kemiskinan. Wajar segala regulasi pengentasan pengemis mulai dari fatwa haram dari MUI hingga ke Perda ketertiban digalakkan. Ada tiga golongan pengemis:
1. Pengemis amatiran
2. Pengemis profesional
3. Pengemis bisnisman

Pengemis amatiran adalah pengemis yang terjadi karena memang terpaksa oleh keadaan. Bersyukurlah hingga saat ini kita masih bisa hidup dengan jalan yang sangat terhormat, tetapi bisa saja suatu saat kita yang hari ini sangat membenci pengemis, malah menjadi pengemis itu sendiri. Seorang pejabat dari Sumatera yang tidak memiliki sanak famili di Jakarta misalnya, tiba-tiba saja kerampokan. Perampok berlaku tidak tanggung-tanggung hingga pakaian pun dilibasnya. Apa yang mau dilakukan? Mau menarik ATM, kartu sudah dibuang. Mau menelepon, HP sudah melayang, ke wartel pun mana mau pengusaha wartel mengizinkan kita yang tidak memiliki uang. Bicara bahwa kita seorang pejabat dengan kondisi yang lusuh, siapa yang mau percaya? Alhasil, terpaksalah mengemis.

Para pengemis amatiran, layak untuk dikasihani. Tetapi sayangnya lebih banyak lagi mereka-mereka yang sebenarnya tidak harus mengemis menjadikan mengemis menjadi pekerjaan/profesi karena kerja ringan hasil lumayan. Apalagi dengan tradisi masyarakat di bulan Ramadhan yang cenderung suka bersedekah. Pengemis tipe gini, harus dihapuskan. Caranya tangkap dan karantina mereka hingga H+3 idul fitri. Kalau ini rutin dilakukan, pengemis-pengemis profesional yang beroperasi di bulan Ramadhan niscaya kapok.

Yang paling jahat adalah mereka yang menjadikan mengemis sebagai bisnis. Para enterpreneur pengemisan tidak segan-segan menggunakan anak orang, orang cacat yang diabaikan keluarga sebagai employee dengan imbalan yang tidak sepadan. Untuk mengatasinya, caranya jerat mereka dengan hukuman yang seberat-beratnya, karena pada prinsipnya mereka sudah memperdagangkan manusia.

blog comments powered by Disqus

Nusantara